Penjualan Kredit Untung atau Buntung? Mengelola Anggaran Piutang Secara Efektif

Penjualan Kredit Untung atau Buntung? Mengelola Anggaran Piutang Secara Efektif

<h1 class="ql-align-center"><strong>ANGGARAN PIUTANG </strong></h1><h2>A. Manfaat Piutang</h2><p>Penjualan kredit memberikan beberapa keuntungan bagi perusahaan, antara lain:</p><ol><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Meningkatkan penjualan dan daya saing, karena pembeli yang kekurangan dana dapat tetap membeli, bahkan dalam jumlah lebih besar, sehingga membantu perusahaan bersaing dengan kompetitor.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Meningkatkan keuntungan, volume penjualan yang naik diharapkan berdampak positif pada laba dan penilaian investasi.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Mempererat hubungan dagang, hubungan hutang-piutang menciptakan ikatan bisnis yang lebih berkelanjutan antara perusahaan dan pelanggan.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Menambah keuntungan tambahan, pada usaha dengan sistem kredit jangka panjang (seperti properti atau kendaraan bermotor), penjual juga memperoleh laba dari selisih bunga antara yang dibebankan ke pembeli dan bunga pinjaman ke bank.</li></ol><p>Namun, meskipun membawa dampak positif, penjualan kredit juga mengandung risiko dan beban yang perlu ditanggung oleh perusahaan.</p><p><br></p><h2>B. Berbagai Beban yang Timbul Akibat Memberikan Kredit</h2><p>Pemberian kredit kepada pelanggan menimbulkan beberapa jenis beban bagi perusahaan, yaitu:</p><ol><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Beban biaya modal, karena piutang merupakan bentuk investasi yang menyerap sebagian modal perusahaan. Jika menggunakan modal sendiri, dana untuk investasi lain berkurang. Jika menggunakan pinjaman bank, muncul beban bunga pinjaman. Dengan demikian, adanya piutang meningkatkan kebutuhan modal kerja dan biaya modal tetap.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Biaya administrasi piutang, mencakup gaji, tunjangan, dan biaya operasional unit kerja yang mengelola pencatatan serta penagihan piutang agar tertib dan tepat waktu.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Biaya penagihan, meliputi pengeluaran untuk komunikasi (telepon, surat, perjalanan) dalam menagih piutang agar segera dibayar.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Risiko piutang tak tertagih, muncul ketika debitur gagal membayar karena pailit atau wanprestasi. Untuk mengantisipasi hal ini, perusahaan perlu membentuk cadangan piutang ragu-ragu dari sebagian keuntungan penjualan.</li></ol><p>Dengan demikian, meskipun penjualan kredit dapat meningkatkan penjualan dan laba, perusahaan tetap harus mempertimbangkan beban dan risiko finansial yang menyertainya.</p><p><br></p><h2>C. Kebijaksanaan Piutang</h2><p>Karena piutang dapat memberikan keuntungan sekaligus menimbulkan risiko kerugian, perusahaan perlu memiliki kebijakan piutang yang jelas untuk mengatur dan mengendalikan pengelolaannya.</p><ol><li data-list="bullet"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Pembentukan unit kerja khusus </strong></li></ol><p>Diperlukan bagian atau seksi khusus yang menangani piutang dengan tugas utama seperti: mencari calon pelanggan potensial, menyeleksi debitur, mencatat transaksi kredit, menagih piutang, membuat laporan dan analisis piutang, serta mengelola arus kas masuk dari piutang.</p><ol><li data-list="bullet"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Penetapan kebijakan piutang </strong></li></ol><p>Perusahaan harus memiliki pedoman tertulis yang mencakup:</p><ol><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Penentuan plafon (batas) kredit bagi tiap jenis pelanggan.</li><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Penetapan jangka waktu kredit.</li><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Prosedur penilaian kelayakan calon debitur.</li><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Batas maksimal piutang ragu-ragu serta besaran cadangannya.</li><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Anggaran untuk administrasi piutang.</li><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Kriteria untuk menilai efisiensi pengelolaan piutang.</li><li data-list="bullet"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Pengukuran efisiensi pengelolaan piutang Beberapa indikator yang digunakan: </strong></li><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Tingkat perputaran piutang, yaitu rasio antara penjualan kredit tahunan dengan rata-rata piutang.</li><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Persentase piutang tak tertagih, dibandingkan dengan standar industri.</li><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Usia piutang rata-rata, untuk mengelompokkan piutang berdasarkan lamanya tunggakan dan menilai nilai ekonomis piutang yang masih layak.</li><li data-list="ordered" class="ql-indent-1"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Biaya pengelolaan piutang per Rp1 juta, meliputi biaya modal, biaya administrasi, dan kerugian akibat piutang tak tertagih.</li><li data-list="bullet"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Analisis efisiensi dan tren biaya </strong></li></ol><p>Perusahaan perlu memantau tren biaya pengelolaan piutang dari waktu ke waktu untuk menilai apakah pengelolaan piutang semakin efisien atau justru membebani keuangan perusahaan.</p><p><br></p><h2>D. Pengaruh Penjualan Kredit Terhadap Arus Kas</h2><p>Penjualan kredit memengaruhi arus kas perusahaan karena penerimaan uang tidak terjadi bersamaan dengan transaksi penjualan, berbeda dengan penjualan tunai. Arus kas masuk dari penjualan kredit sangat bergantung pada beberapa faktor, yaitu:</p><ol><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Jangka waktu kredit, semakin panjang jangka waktu yang diberikan, semakin lama pula kas diterima oleh perusahaan.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Kinerja petugas penagihan, semakin rajin dan tepat waktu penagihan dilakukan, semakin lancar arus kas masuk.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Kualitas atau bonafiditas debitur, jika debitur dipilih dengan cermat dan memiliki reputasi baik, risiko keterlambatan pembayaran akan lebih kecil.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span>Kondisi usaha dan ekonomi, pada saat situasi usaha normal dan likuiditas pasar baik, pembayaran cenderung lancar; sebaliknya, pada masa lesu ekonomi, penundaan pembayaran lebih sering terjadi.</li></ol>