<h1 class="ql-align-justify">Salah satu karakteristik utama obligasi adalah:</h1><ol><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Nilai nominal (<em>face value</em>)</strong>. Nilai nominal merupakan nilai pokok obligasi yang akan diterima kembali oleh pemegang obligasi ketika masa obligasi tersebut berakhir atau jatuh tempo. Dengan kata lain, nilai ini adalah jumlah uang yang dipinjamkan investor kepada penerbit obligasi dan akan dikembalikan secara penuh pada akhir periode.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Kupon obligasi (<em>interest rate</em>)</strong>. Kupon merupakan bunga yang dibayarkan secara berkala kepada pemegang obligasi sebagai imbal hasil investasi. Pembayaran kupon biasanya dilakukan setiap 3 bulan atau 6 bulan sekali. Besarnya kupon dinyatakan dalam persentase per tahun (<em>annual</em>) dari nilai nominal obligasi.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Jatuh tempo (<em>maturity</em>)</strong>, yaitu tanggal berakhirnya obligasi, saat penerbit wajib mengembalikan nilai nominal kepada pemegang obligasi. Jangka waktu jatuh tempo obligasi sangat bervariasi, mulai dari 1 tahun hingga lebih dari 5 tahun. Obligasi dengan jatuh tempo yang lebih pendek umumnya memiliki risiko yang lebih kecil karena lebih mudah diprediksi. Sebaliknya, obligasi dengan jatuh tempo yang lebih panjang biasanya menawarkan kupon atau bunga yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko yang lebih besar.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Penerbit atau emiten obligasi (<em>issuer</em>)</strong>. Mengenal siapa yang menerbitkan obligasi sangat penting sebelum melakukan investasi, karena berkaitan langsung dengan risiko gagal bayar (<em>default risk</em>). Risiko ini menunjukkan kemungkinan penerbit tidak mampu membayar kupon atau mengembalikan pokok obligasi tepat waktu. Untuk menilai tingkat risiko tersebut, investor dapat melihat peringkat obligasi (<em>rating</em>) yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat seperti PEFINDO atau Kasnic Indonesia. Semakin tinggi peringkat obligasi, semakin rendah risiko gagal bayarnya.</li></ol><p class="ql-align-justify"><br></p>