Mengapa Investasi Properti Tetap Menjadi Primadona di Era Modern

Mengapa Investasi Properti Tetap Menjadi Primadona di Era Modern

<h2><strong>Investasi Properti (<em>Real Estate</em>)</strong></h2><p>Investasi properti adalah kegiatan menanamkan dana pada aset berupa tanah atau bangunan, seperti rumah, ruko, apartemen, atau kos-kosan, dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa depan. Jenis investasi ini termasuk yang paling populer, terutama di negara-negara maju, karena dinilai relatif aman dan memiliki nilai yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu.</p><p><br></p><h2><strong>Pentingnya Berinvestasi Properti</strong></h2><p>Properti dianggap penting sebagai pilihan investasi karena memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan investasi lain seperti saham atau emas. Properti bersifat nyata (berwujud), dapat digunakan, disewakan, dan nilainya bisa ditingkatkan melalui berbagai cara. Karena itu, banyak investor menjadikan properti sebagai sarana membangun kekayaan jangka panjang.</p><p><br></p><h2><strong>Alasan Berinvestasi Properti</strong></h2><p>Menurut Joe Hartanto dalam buku <em>Property Cash Machine</em>, terdapat delapan alasan utama mengapa properti menjadi pilihan investasi yang menarik. Alasan-alasan ini menjelaskan keunggulan properti dibandingkan instrumen investasi lainnya.</p><ol><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Alasan pertama: jumlah tanah terbatas</strong>. Tanah tidak bisa diciptakan atau diperbanyak. Luas daratan di bumi jumlahnya tetap, sementara jumlah penduduk terus bertambah setiap tahun. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan akan tanah dan bangunan semakin meningkat. Ketika permintaan terus naik sementara jumlah tanah tidak bertambah, harga tanah dan properti cenderung naik. Inilah yang membuat properti memiliki potensi kenaikan nilai dalam jangka panjang.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Alasan kedua: investor dapat memegang kendali</strong>. Dalam investasi properti, investor memiliki kontrol yang lebih besar atas aset yang dimilikinya. Berbeda dengan saham atau emas yang pergerakan harganya sangat dipengaruhi pasar, investor properti bisa melakukan banyak hal untuk meningkatkan nilai investasinya. Misalnya dengan menaikkan harga sewa, melakukan renovasi, memperbaiki tampilan bangunan, atau mengelola properti dengan lebih baik. Dengan kata lain, keuntungan tidak hanya bergantung pada kondisi pasar.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Alasan ketiga: daya ungkit (<em>leverage</em>) sangat tinggi</strong>. Investasi properti memungkinkan investor membeli aset bernilai besar dengan modal awal yang relatif kecil. Umumnya, seseorang dapat membeli rumah hanya dengan membayar uang muka sekitar 20–30% dari harga properti, sisanya dibiayai oleh bank melalui kredit. Bahkan, dengan strategi dan pengetahuan yang tepat, ada investor yang bisa membeli properti dengan modal yang lebih kecil lagi. Namun, hal ini membutuhkan pembelajaran, pengalaman, dan bimbingan dari mentor yang tepat.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Alasan keempat: nilai aset bisa ditingkatkan dengan modal terbatas</strong>. Nilai properti dapat dinaikkan melalui renovasi, baik renovasi besar maupun kecil. Renovasi besar misalnya menambah lantai, memperluas bangunan, atau menambah fasilitas. Renovasi kecil seperti mengecat ulang, memperbaiki tampilan depan, atau mengganti interior juga dapat meningkatkan daya tarik dan harga jual properti. Dengan modal yang relatif kecil, nilai aset bisa naik cukup signifikan.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Alasan kelima: memperoleh dua jenis keuntungan</strong>. Investasi properti memberikan dua sumber keuntungan sekaligus, yaitu <em>capital gain dan cash flow</em>. <em>Capital gain</em> adalah keuntungan dari kenaikan harga properti ketika dijual di masa depan atau saat dilakukan penilaian ulang. Sementara itu, <em>cash flow</em> berasal dari pendapatan rutin seperti uang sewa rumah, kos, atau ruko. Kombinasi dua keuntungan ini membuat properti sangat menarik bagi investor.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Alasan keenam: tidak terlalu menyita waktu</strong>. Meskipun properti membutuhkan pengelolaan, investor tidak harus terlibat langsung dalam urusan sehari-hari. Jika ada masalah seperti kerusakan bangunan atau keluhan penyewa, investor bisa menunjuk pengelola properti atau <em>property manager</em>. Dengan begitu, investasi tetap berjalan tanpa mengganggu aktivitas utama investor.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Alasan ketujuh: bank menyukai pembiayaan property</strong>. Bank menilai investasi properti memiliki risiko yang relatif rendah dibandingkan jenis investasi lain. Properti merupakan aset tetap yang memiliki nilai jelas dan dapat dijadikan jaminan. Oleh karena itu, bank cenderung lebih mudah memberikan pinjaman untuk pembelian rumah, ruko, atau tanah dibandingkan pembiayaan investasi lainnya.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Alasan kedelapan: banyak orang kaya berinvestasi di property</strong>. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar orang kaya di dunia memiliki investasi di sektor properti. Bahkan Ray Kroc, pendiri McDonald’s, pernah menyatakan bahwa bisnis utamanya bukan menjual makanan, melainkan properti. Hal ini menunjukkan bahwa properti bukan hanya aset fisik, tetapi juga sumber kekayaan jangka panjang yang sangat kuat.</li></ol><p><br></p>