<p> Ketika manusia mengambil dan menggunakan sumber daya alam seperti minyak, emas, batu bara, atau kayu, sebenarnya alam sedang “kehilangan” sebagian dari isinya. Sumber daya ini tidak seperti mesin atau kendaraan yang bisa diperbaiki atau diganti dengan cepat. Sekali ditambang atau ditebang, jumlahnya berkurang dan bisa habis. Karena itulah, akuntansi ikut “bicara” untuk mencatat pengurangan tersebut agar nilainya tidak terlihat seolah-olah masih utuh.</p><p> Dalam akuntansi, pengurangan nilai sumber daya alam dicatat melalui <strong>deplesi</strong>. Deplesi membantu perusahaan menghitung berapa besar nilai alam yang sudah digunakan dalam satu periode. Misalnya, setiap kilogram emas yang ditambang atau setiap barel minyak yang diambil akan mengurangi nilai aset alam yang dimiliki perusahaan. Dengan cara ini, laporan keuangan menjadi lebih jujur dan mencerminkan kenyataan bahwa penggunaan alam juga memiliki biaya.</p><p><br></p><h1><strong>Mengapa Terjadi Deplesi?</strong></h1><p> Deplesi adalah cara dalam akuntansi untuk mencatat berkurangnya nilai sumber daya alam yang dimiliki perusahaan karena terus diambil dan digunakan. Sumber daya alam ini sering disebut aset yang dapat habis, karena jika dipakai terus-menerus, jumlahnya akan berkurang dan suatu saat bisa habis. Contohnya adalah minyak bumi, gas alam, batu bara, emas, mineral, dan kayu dari hutan.</p><p> Sumber daya alam memiliki dua ciri utama. Pertama, ketika digunakan atau diambil, aset tersebut langsung berkurang jumlahnya dan tidak bisa dipakai lagi untuk periode berikutnya. Kedua, sumber daya alam tidak bisa diganti oleh manusia, melainkan hanya bisa pulih melalui proses alam yang memerlukan waktu sangat lama, bahkan ratusan tahun. Karena itu, setiap kali sumber daya alam diambil, nilainya juga ikut berkurang.</p><p> Agar nilai sumber daya alam yang dicatat dalam laporan keuangan tetap wajar, perusahaan perlu mengalokasikan biaya perolehannya secara bertahap sesuai dengan jumlah sumber daya yang diambil. Proses inilah yang disebut deplesi.</p><p><br></p><h1><strong>Bagaimana Cara Akuntansi Mencatat Deplesi?</strong></h1><p> Dalam akuntansi, pencatatan deplesi dilakukan melalui dua tahap utama. Pertama, perusahaan harus menentukan dasar deplesi, yaitu total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan menyiapkan sumber daya alam tersebut. Kedua, perusahaan menghapus atau membebankan nilai sumber daya alam secara bertahap sesuai dengan jumlah yang diambil dalam satu periode.</p><p><br></p><h1><strong>Penetapan Dasar Deplesi</strong></h1><p> Dasar deplesi adalah total biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan dan menyiapkan sumber daya alam agar bisa digunakan. Biaya ini umumnya terdiri dari tiga jenis.</p><ol><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Biaya perolehan atau biaya akuisisi</strong>, yaitu biaya yang dibayar perusahaan untuk mendapatkan hak atas sumber daya alam tersebut. Misalnya, biaya sewa lahan tambang emas, pembelian hak pengelolaan hutan, atau pembayaran royalti kepada pemilik lahan. Jika setelah eksplorasi ternyata sumber daya alam tersebut tidak ditemukan atau tidak menguntungkan, maka biaya ini biasanya langsung dicatat sebagai kerugian.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Biaya eksplorasi</strong>, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk mencari dan membuktikan keberadaan sumber daya alam. Contohnya adalah biaya survei, pengeboran awal, atau penelitian kandungan mineral. Dalam praktiknya, perlakuan akuntansi atas biaya ini bisa berbeda-beda. Ada perusahaan yang langsung membebankannya sebagai biaya, ada yang hanya mencatatnya sebagai aset jika eksplorasinya berhasil, dan ada juga yang mencatat semua biaya eksplorasi sebagai aset tanpa melihat hasilnya.</li><li data-list="ordered"><span class="ql-ui" contenteditable="false"></span><strong>Biaya pengembangan</strong>, yaitu biaya yang dikeluarkan agar sumber daya alam siap untuk diproduksi. Biaya ini terbagi menjadi dua. Pertama, biaya peralatan berwujud seperti alat berat, mesin pengangkut, dan peralatan tambang. Biaya ini biasanya tidak dimasukkan ke dalam dasar deplesi, melainkan disusutkan terpisah karena peralatannya bisa dipindahkan ke lokasi lain. Kedua, biaya pengembangan tak berwujud, seperti biaya pengeboran sumur, pembuatan lorong tambang, atau gua tambang. Biaya tak berwujud ini dimasukkan ke dalam dasar deplesi karena langsung berkaitan dengan pengambilan sumber daya alam.</li></ol><p><br></p><h1><strong>Penghapusan Beban Sumber Daya Alam (Deplesi)</strong></h1><p> Setelah dasar deplesi ditentukan, langkah berikutnya adalah membebankan nilai sumber daya alam tersebut ke setiap periode akuntansi. Umumnya, deplesi dihitung menggunakan metode unit produksi, yaitu metode yang menghitung beban berdasarkan jumlah sumber daya yang benar-benar diambil, bukan berdasarkan waktu.</p><p> Caranya sederhana. Total biaya sumber daya alam dikurangi nilai sisa (jika ada), lalu dibagi dengan total perkiraan jumlah sumber daya yang tersedia. Hasilnya adalah beban deplesi per unit. Beban per unit ini kemudian dikalikan dengan jumlah unit yang diambil dalam satu periode untuk mendapatkan total beban deplesi periode tersebut.</p><h1><br></h1><h1><strong>Contoh Sederhana Kasus Deplesi</strong></h1><p> Misalnya, PT Delta Alpha memperoleh hak untuk menambang emas di lahan seluas 2.000 hektar. Perusahaan mengeluarkan biaya sewa lahan sebesar Rp100.000.000, biaya eksplorasi Rp65.000.000, dan biaya pengembangan tak berwujud Rp215.000.000. Total biaya yang dikeluarkan adalah Rp380.000.000. Tambang emas tersebut diperkirakan tidak memiliki nilai sisa dan mampu menghasilkan 500 kg emas.</p><p> Dengan demikian, beban deplesi per kilogram emas adalah Rp380.000.000 dibagi 500 kg, yaitu Rp760.000 per kg. Jika dalam satu periode perusahaan berhasil menambang 37 kg emas, maka beban deplesi yang harus dicatat adalah 37 kg dikalikan Rp760.000, yaitu sebesar Rp28.120.000.</p><p><br></p><h2>Kesimpulan</h2><p> Deplesi diperlukan karena sumber daya alam akan habis jika terus diambil. Setiap kali perusahaan menambang minyak, emas, atau menebang kayu, nilai aset tersebut ikut berkurang. Melalui deplesi, biaya sumber daya alam dibagi secara adil sesuai dengan jumlah yang digunakan, sehingga laporan keuangan mencerminkan kondisi yang sebenarnya.</p>